Rabu, 26 Mei 2010

askep anak dengan asthma

Standar Asuhan Keperawatan
Pada Anak Dengan Asthma


A. KONSEP DASAR
1. DEFINISI
Asthma disebut juga sebagai reactive air way disease ( RAD ), adalah suatu penyakit obstruksi pada jalan nafas secara reversible yang ditandai dengan bronchospasme, inflamasi, dan peningkatan reaksi jalan nafas terhadap berbagai stimulan.

2. ETIOLOGI
• Faktor Ekstrinsik : reaksi antigen – antibody; karena inhalasi alergan( debu, serbuk – serbuk, bulu binatang)
• Faktor Intrinsik ; infeksi : para influenza virus, pneumonia, mycopiasmal. Kemudian factor dari fisik; cuaca dingin, perubahan temperatur. Iritan; kimia. Polusi udara (CO, asap rokok, parfum). Emosional; takut, cemas dan tegang. Aktivitas yang berlebihan dapat menjadi factor pencetus.

3. PATOFISIOLOGI
- Asthma pada anak terjadi adnay penyempitan pada jalan nafas dan hiperaktif dengan respon terhadap bahan iritasi dan stimulus lain.
- Dengan adanya bahan iritasi atau allergen otot – otot bronchus menjadi spasme dan zat antibody tubuh muncul ( IgE ) dengan adanya alergi. IgE dimunculkan pada reseptor sel mast yang menyebabakan pengeluaran histamin dan zat mediator lainnya. Mediator tersebut akan memberikan gejala asthma.
- Respon asthma terjadi dalam tiga tahap; pertama tahap intermediate yang ditandai dengan bronkokonstriksi( 1 – 2 jam ), tahap delayed dimana bronkokonstriksi dapat berulang dalam 4 – 6 jam dan terus menerus 2 – 5 jam lebih lama; tahap late yang ditandai dengan peradangan dan hiperresponsif jalan nafas beberapa minggu atau bulan
- Asthma juga dapat terjadi fakror pencetusnya karena latihan, kecemasan dan udara dingin.
- Selam serangan asmatik, bronkhiolus menjadi meradang dan peningkatan sekresi mokus. Hal ini menyebabkan lumen jalan nafas menjadi bengkak, kemudian meningkatkan resestensi jalan nafas dan dapat menimbulkan disress pernafasan.
- Anak yang mengalami asma mudah untuk inhalasi dan sukar dalam ekhalasi karena edema pada jalan nafas. Dan ini menyebabkan hiferinflasi pada alveoli dan perubahan pertukaran gas. Jalan nafasmenjadi obstruksi yangm kemudian tidak adekuat ventilasi dan saturasi oksigen, sehingga terjadi penurunan pO2( hipoxia). Selama serangan asmatik, CO2 tertahan dengan meningkatnya resestensi jalan nafas selama ekspirasi, dan menyebabkan acidosis respiratory dan hiperkapnea. Kemudian system pernafasan akan mengadakan kompensasi dengan meningkatkan pernapasan ( takipnea ), kompensasi tersebut menimbulkan hiperventilasi dan menurunkan kadar CO2 dalam darah (hipokapnea ).

4. MANIFESTASI KLINIS
 Wheezing
 Dispnea dengan lama ekpirasi; penggunaan otot-otot asesori pernafasan, nafas cuping hidung, retraksi dada dan stridor
 Batuk kering( tidak produktif ) karena secret kental dan lumen jalan nafas sempit.
 Takipnea, orthopnea
 Gelisah
 Diaphorosis
 Nyeri abdomen karena terlibatnya otot abdome dalam pernafasan
 Fatigue
 Tidak toleran terhadap aktifitas; makan, bermain, berjalan, bahkan bicara
 Kecemasan, labil dan perubahan tingkat kesadaran
 Meningkatnya ukurandiameter anteroposterior ( barrel chest )
 Serangan yang tiba-tiba atau berangsur-angsur.

5. PENATALAKSANAAN
• Serangan akut dengan oksigen nasal atau masker
• Terapi cairan parenteral
• Terapi pengobatan sesuai program

6. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
• Riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik
• Foto rontgen
• Pemeriksaan funsi paru; penurunan tidal volum, kapasitas vital, eosinofil biasanya meningkat dalam darah dan sputum
• Pemeriksaan alergi( radioallergosorbent test;RAST )
• Pulse oximetry
• Analisa gas darah

7. KOMPLIKASI
- Mengancam pada gangguan keseimbangan asam basa dan gagal nafas
- Bronchiolitis
- Pneumonia
- Emphysema.

B. PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
 Riwayat asma atau alergi dan serangan asma yang lalu, alergi dan masalah pernafasan
 Kaji pengetahuan anak dan orangtua tentang penyakit dan pengobatan
 Fase akut; tanda vital, usaha nafas dan pernafasan,retraksi dada, penggunaan otot-otot asesori pernafasan, cuping hidung,pulse oximetry. Suara nafas; wheezing,menurunnya suara nafas. Kaji status neurologis; perubahan kesadaran, meningkatnya fatigue,perubahan tingkah laku dan kaji status hidrasi.
 Riwayat psikososial; factor pencetus; stress,latihan, kebiasaan dan rutinitas, perawatan sebelumnya.

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan pertukaran gas, tidak efektif bersihan jalan nafas, dan tidak efektif pola nafas berhubung dengan bronkospasme, edema mokusal dan meningkatnya secret.
2. Fatigue berhubung dengan hipoxia dan meningkatnya usaha nafas
3. Kecemasan berhubung dengan hospitalisasi dan distress pernafasan
4. Resiko kurangnya volume cairan berhubung dengan meningkatnya pernafasan dan menurunnya intake cairan
5. Perubahan proses keluarga berhubung dengan kondisi kronik
6. Kurangnya pengetahuan berhubung dengan proses penyakit dan pengobatan

3. PERENCANAAN
1. Anak tidak menunjukkan gangguan keseimbangan asam basa yang ditandai dengan saturasi oksigen lebih kurang 95%.
2. Anak tidak tampak fatigueyang ditandai dengan tidak iritabel, dapat berpartisipasi dan aktivitas yang sesuai dengan kondisi.
3. Kecemasan menurun yang ditandai dengan anak tenang dan dapat mengekspresikan perasaannya, begitu juga orangtua merasa tenang dan berpartisipasi dalam perawatan anak.
4. Status hidrasi adekuat yang ditandai dengan turgor kulit elastis,membran mukosa lembab, intake cairan sesuai dengan usia dan berat badan, output urine > 2 ml/kg BB perjam.
5. Orangtua mendemonstrasikan koping yang tepat yang ditandai dengan mengekspresikan perasaan dan perhatian serta memberikan aktivitas yang sesuai usia atau kondisi dan perkembangan psikososial anak..
6. Orangtua secara verbal memahami proses penyakit dan pengobatan dan mengikutiregimen terapi yang diberikan.

4. IMPLEMENTASI
1. Mempertahankan pertukaran gas yang adekuat dan pembersihan jalan nafas
ى Pertahankan kepatenan jalan nafas; pertahankan support ventilasi bila diperlukan
ى Kaji fungsi pernafasan; auskultasi bunyi nafas, kaji kulit setiap 15’ sampai 4 jam
ى Berikan oksigen sesuai program dan pantau oximetry dan batasi (penyapihan) atau tanpa alat bantu bila kondisi telah membaik
ى Kaji kenyamanan posisi tidur anak
ى Monitor efek samping pengobatan; monitor serum darah.
ى Berikan cairan yang adekuat per oral atau parenteral
ى Pemberian terapi pernafasan; nebulizer, fisioterapi dada bila indikasi, ajarkan batuk dan nafas dalam efektif setelah pengobatan dan pengisapan secret (suction).
ى Jelaskan semua prosedur yang akan dilakukan pada anak untuk mengurangi kecemasan
ى Berikan terpi bermain sesuai usia
2. Memberikan istirahat yang cukup, mencegah hipoxia, dan mengurangi kerja berat pernafasan
ﻢ Kaji tanda dan gejala hipoxia; kegelisahan, fatigue, iritabel,takikardy dan takipnea
ﻢ Hindari seringnya melakukan intervensi yang tidak penting yang dapat membuat anak lelah, berikan istirakat yang cukup
ﻢ Insruksikan pada orangtua untuk tetap bersama anak
ﻢ Berikan kenyamanan fisik; support dengan bantal dan pengaturan posisi
ﻢ Berikan oksigen sesuai program
ﻢ Berikan nebulizer; kemudian pantau bunyi nafas dan usaha nafas setelah terapi
ﻢ Setelah krisis, ajarkan untuk aktivitas yang sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan untuk meningkatkan ventilasi, dan memperluas perkembangan psikososial.
3. Memberikan lingkungan yang tenang dan mengurangi kecemasan
ﻻ Ajarkan teknik relaksasi; latihan nafas, melibatkan penggunaan bibir dan perut, dan ajarkan untuk berimajinasi
ﻻ Pertahankan lingkungan yang tenang; temani anak, dan berikan support
ﻻ Ajarkan untuk ekspresi perasaan secara verbal
ﻻ Berikan terapi bermain sesuai kondisi
ﻻ Informasikan tentang perawatan, pengobatan dan kondisi anak
ﻻ Jelaskan semua prosedur yang akan dilakukan
4. Memberikan hidrasi yang adekuat
ﻜ Monitor intake dan output, mukosa membran, turgor kulit, pengeluaran urine
ﻜ Monitor elektrolit
ﻜ Kaji warna sputum, konsistensi dan jumlah
ﻜ Pertahankan terapi parenteral bila indikasi, dan monitor kelebihan cairan
ﻜ Berikan intake cairan per oral bila toleran, hati-hati minuman yang dapat menyebabkan bronkospasme ( air dingin )
ﻜ Setelah fase akut, ajarkan anak dan orangtua untuk minum 3 – 8 gelas (750-2000 ml), tergantung usia dan berat badan
5. Mengkaji proses koping keluarga
 Berikan kesempatan pada orangtua untuk mengekspresikan perasaan
 Kaji mekanisme koping sebelumnya pada waktu stress
 Jelaskan prosedur dan pengobatan yang diberikan
 Informasikan kondisi anak pada orangtua
 Identifikasi sumber-sumber psikososial keluarga dan finansial
6. Memberikan informasi tentang proses penyakit, perawatan dan pengobatan
٥ Kaji tingkat pengetahuan anak dan orangtua tentang penyakit, pengobatan dan intervensi
٥ Bantu untuk mengidentifikasi factor pencetus
٥ Jelaskan tentang emosi dan stress yang dapat menjadi factor pencetus
٥ Jelaskan pentingnya pengobatan, dosis dan efek samping, waktu pemberian dan pemeriksaan darah
٥ Informasikan tanda dan gejala yang harus dilaporkan dan kontrol ulang
٥ Informasikan pentingnya program aktivitas dan latihan nafas
٥ Jelaskan pentingnya terapi bermain sesuai usia

5. PERENCANAAN PEMULANGAN
 Jelaskan proses penyakit dengan menggunakan gambar atau metode yang mudah diterima
 Fokuskan pada paeawatan mandiri di rumah
 Hindari factor pemicu; kebersihan lantai rumah, debu, karpet, bulu binatang dan lainnya
 Jelaskan tanda bahaya yang akan muncul
 Ajarkan penggunaan nebulizer
 Keluarga perlu memahami tentang pengobatan, nama obat, dosis, efek samping dan waktu pemberian
 Ajarkan strategi kontrol kecemasan, takut dan stress
 Jelaskan pentingnya istirahat dan latihan, termasuk latihan nafas
 Jelaskan pentingnya intake cairan dan nutrisi yang adekuat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar