Standar Asuhan Keperawatan
Pada Anak Dengan Asthma
A. KONSEP DASAR
1. DEFINISI
Asthma disebut juga sebagai reactive air way disease ( RAD ), adalah suatu penyakit obstruksi pada jalan nafas secara reversible yang ditandai dengan bronchospasme, inflamasi, dan peningkatan reaksi jalan nafas terhadap berbagai stimulan.
2. ETIOLOGI
• Faktor Ekstrinsik : reaksi antigen – antibody; karena inhalasi alergan( debu, serbuk – serbuk, bulu binatang)
• Faktor Intrinsik ; infeksi : para influenza virus, pneumonia, mycopiasmal. Kemudian factor dari fisik; cuaca dingin, perubahan temperatur. Iritan; kimia. Polusi udara (CO, asap rokok, parfum). Emosional; takut, cemas dan tegang. Aktivitas yang berlebihan dapat menjadi factor pencetus.
3. PATOFISIOLOGI
- Asthma pada anak terjadi adnay penyempitan pada jalan nafas dan hiperaktif dengan respon terhadap bahan iritasi dan stimulus lain.
- Dengan adanya bahan iritasi atau allergen otot – otot bronchus menjadi spasme dan zat antibody tubuh muncul ( IgE ) dengan adanya alergi. IgE dimunculkan pada reseptor sel mast yang menyebabakan pengeluaran histamin dan zat mediator lainnya. Mediator tersebut akan memberikan gejala asthma.
- Respon asthma terjadi dalam tiga tahap; pertama tahap intermediate yang ditandai dengan bronkokonstriksi( 1 – 2 jam ), tahap delayed dimana bronkokonstriksi dapat berulang dalam 4 – 6 jam dan terus menerus 2 – 5 jam lebih lama; tahap late yang ditandai dengan peradangan dan hiperresponsif jalan nafas beberapa minggu atau bulan
- Asthma juga dapat terjadi fakror pencetusnya karena latihan, kecemasan dan udara dingin.
- Selam serangan asmatik, bronkhiolus menjadi meradang dan peningkatan sekresi mokus. Hal ini menyebabkan lumen jalan nafas menjadi bengkak, kemudian meningkatkan resestensi jalan nafas dan dapat menimbulkan disress pernafasan.
- Anak yang mengalami asma mudah untuk inhalasi dan sukar dalam ekhalasi karena edema pada jalan nafas. Dan ini menyebabkan hiferinflasi pada alveoli dan perubahan pertukaran gas. Jalan nafasmenjadi obstruksi yangm kemudian tidak adekuat ventilasi dan saturasi oksigen, sehingga terjadi penurunan pO2( hipoxia). Selama serangan asmatik, CO2 tertahan dengan meningkatnya resestensi jalan nafas selama ekspirasi, dan menyebabkan acidosis respiratory dan hiperkapnea. Kemudian system pernafasan akan mengadakan kompensasi dengan meningkatkan pernapasan ( takipnea ), kompensasi tersebut menimbulkan hiperventilasi dan menurunkan kadar CO2 dalam darah (hipokapnea ).
4. MANIFESTASI KLINIS
Wheezing
Dispnea dengan lama ekpirasi; penggunaan otot-otot asesori pernafasan, nafas cuping hidung, retraksi dada dan stridor
Batuk kering( tidak produktif ) karena secret kental dan lumen jalan nafas sempit.
Takipnea, orthopnea
Gelisah
Diaphorosis
Nyeri abdomen karena terlibatnya otot abdome dalam pernafasan
Fatigue
Tidak toleran terhadap aktifitas; makan, bermain, berjalan, bahkan bicara
Kecemasan, labil dan perubahan tingkat kesadaran
Meningkatnya ukurandiameter anteroposterior ( barrel chest )
Serangan yang tiba-tiba atau berangsur-angsur.
5. PENATALAKSANAAN
• Serangan akut dengan oksigen nasal atau masker
• Terapi cairan parenteral
• Terapi pengobatan sesuai program
6. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
• Riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik
• Foto rontgen
• Pemeriksaan funsi paru; penurunan tidal volum, kapasitas vital, eosinofil biasanya meningkat dalam darah dan sputum
• Pemeriksaan alergi( radioallergosorbent test;RAST )
• Pulse oximetry
• Analisa gas darah
7. KOMPLIKASI
- Mengancam pada gangguan keseimbangan asam basa dan gagal nafas
- Bronchiolitis
- Pneumonia
- Emphysema.
B. PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
Riwayat asma atau alergi dan serangan asma yang lalu, alergi dan masalah pernafasan
Kaji pengetahuan anak dan orangtua tentang penyakit dan pengobatan
Fase akut; tanda vital, usaha nafas dan pernafasan,retraksi dada, penggunaan otot-otot asesori pernafasan, cuping hidung,pulse oximetry. Suara nafas; wheezing,menurunnya suara nafas. Kaji status neurologis; perubahan kesadaran, meningkatnya fatigue,perubahan tingkah laku dan kaji status hidrasi.
Riwayat psikososial; factor pencetus; stress,latihan, kebiasaan dan rutinitas, perawatan sebelumnya.
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan pertukaran gas, tidak efektif bersihan jalan nafas, dan tidak efektif pola nafas berhubung dengan bronkospasme, edema mokusal dan meningkatnya secret.
2. Fatigue berhubung dengan hipoxia dan meningkatnya usaha nafas
3. Kecemasan berhubung dengan hospitalisasi dan distress pernafasan
4. Resiko kurangnya volume cairan berhubung dengan meningkatnya pernafasan dan menurunnya intake cairan
5. Perubahan proses keluarga berhubung dengan kondisi kronik
6. Kurangnya pengetahuan berhubung dengan proses penyakit dan pengobatan
3. PERENCANAAN
1. Anak tidak menunjukkan gangguan keseimbangan asam basa yang ditandai dengan saturasi oksigen lebih kurang 95%.
2. Anak tidak tampak fatigueyang ditandai dengan tidak iritabel, dapat berpartisipasi dan aktivitas yang sesuai dengan kondisi.
3. Kecemasan menurun yang ditandai dengan anak tenang dan dapat mengekspresikan perasaannya, begitu juga orangtua merasa tenang dan berpartisipasi dalam perawatan anak.
4. Status hidrasi adekuat yang ditandai dengan turgor kulit elastis,membran mukosa lembab, intake cairan sesuai dengan usia dan berat badan, output urine > 2 ml/kg BB perjam.
5. Orangtua mendemonstrasikan koping yang tepat yang ditandai dengan mengekspresikan perasaan dan perhatian serta memberikan aktivitas yang sesuai usia atau kondisi dan perkembangan psikososial anak..
6. Orangtua secara verbal memahami proses penyakit dan pengobatan dan mengikutiregimen terapi yang diberikan.
4. IMPLEMENTASI
1. Mempertahankan pertukaran gas yang adekuat dan pembersihan jalan nafas
ى Pertahankan kepatenan jalan nafas; pertahankan support ventilasi bila diperlukan
ى Kaji fungsi pernafasan; auskultasi bunyi nafas, kaji kulit setiap 15’ sampai 4 jam
ى Berikan oksigen sesuai program dan pantau oximetry dan batasi (penyapihan) atau tanpa alat bantu bila kondisi telah membaik
ى Kaji kenyamanan posisi tidur anak
ى Monitor efek samping pengobatan; monitor serum darah.
ى Berikan cairan yang adekuat per oral atau parenteral
ى Pemberian terapi pernafasan; nebulizer, fisioterapi dada bila indikasi, ajarkan batuk dan nafas dalam efektif setelah pengobatan dan pengisapan secret (suction).
ى Jelaskan semua prosedur yang akan dilakukan pada anak untuk mengurangi kecemasan
ى Berikan terpi bermain sesuai usia
2. Memberikan istirahat yang cukup, mencegah hipoxia, dan mengurangi kerja berat pernafasan
ﻢ Kaji tanda dan gejala hipoxia; kegelisahan, fatigue, iritabel,takikardy dan takipnea
ﻢ Hindari seringnya melakukan intervensi yang tidak penting yang dapat membuat anak lelah, berikan istirakat yang cukup
ﻢ Insruksikan pada orangtua untuk tetap bersama anak
ﻢ Berikan kenyamanan fisik; support dengan bantal dan pengaturan posisi
ﻢ Berikan oksigen sesuai program
ﻢ Berikan nebulizer; kemudian pantau bunyi nafas dan usaha nafas setelah terapi
ﻢ Setelah krisis, ajarkan untuk aktivitas yang sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan untuk meningkatkan ventilasi, dan memperluas perkembangan psikososial.
3. Memberikan lingkungan yang tenang dan mengurangi kecemasan
ﻻ Ajarkan teknik relaksasi; latihan nafas, melibatkan penggunaan bibir dan perut, dan ajarkan untuk berimajinasi
ﻻ Pertahankan lingkungan yang tenang; temani anak, dan berikan support
ﻻ Ajarkan untuk ekspresi perasaan secara verbal
ﻻ Berikan terapi bermain sesuai kondisi
ﻻ Informasikan tentang perawatan, pengobatan dan kondisi anak
ﻻ Jelaskan semua prosedur yang akan dilakukan
4. Memberikan hidrasi yang adekuat
ﻜ Monitor intake dan output, mukosa membran, turgor kulit, pengeluaran urine
ﻜ Monitor elektrolit
ﻜ Kaji warna sputum, konsistensi dan jumlah
ﻜ Pertahankan terapi parenteral bila indikasi, dan monitor kelebihan cairan
ﻜ Berikan intake cairan per oral bila toleran, hati-hati minuman yang dapat menyebabkan bronkospasme ( air dingin )
ﻜ Setelah fase akut, ajarkan anak dan orangtua untuk minum 3 – 8 gelas (750-2000 ml), tergantung usia dan berat badan
5. Mengkaji proses koping keluarga
Berikan kesempatan pada orangtua untuk mengekspresikan perasaan
Kaji mekanisme koping sebelumnya pada waktu stress
Jelaskan prosedur dan pengobatan yang diberikan
Informasikan kondisi anak pada orangtua
Identifikasi sumber-sumber psikososial keluarga dan finansial
6. Memberikan informasi tentang proses penyakit, perawatan dan pengobatan
٥ Kaji tingkat pengetahuan anak dan orangtua tentang penyakit, pengobatan dan intervensi
٥ Bantu untuk mengidentifikasi factor pencetus
٥ Jelaskan tentang emosi dan stress yang dapat menjadi factor pencetus
٥ Jelaskan pentingnya pengobatan, dosis dan efek samping, waktu pemberian dan pemeriksaan darah
٥ Informasikan tanda dan gejala yang harus dilaporkan dan kontrol ulang
٥ Informasikan pentingnya program aktivitas dan latihan nafas
٥ Jelaskan pentingnya terapi bermain sesuai usia
5. PERENCANAAN PEMULANGAN
Jelaskan proses penyakit dengan menggunakan gambar atau metode yang mudah diterima
Fokuskan pada paeawatan mandiri di rumah
Hindari factor pemicu; kebersihan lantai rumah, debu, karpet, bulu binatang dan lainnya
Jelaskan tanda bahaya yang akan muncul
Ajarkan penggunaan nebulizer
Keluarga perlu memahami tentang pengobatan, nama obat, dosis, efek samping dan waktu pemberian
Ajarkan strategi kontrol kecemasan, takut dan stress
Jelaskan pentingnya istirahat dan latihan, termasuk latihan nafas
Jelaskan pentingnya intake cairan dan nutrisi yang adekuat
Rabu, 26 Mei 2010
askep anak dengan diare
ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE
A. KONSEP DASAR
1. DEFENISI
Diare adalah kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang terjadi karena frekuensi satu kali atau lebih buang air besar dengan bentuk tinja yang encer atau cair.
2. ETIOLOGI
a Faktor infeksi
1.) Bakteri ; Enteropathogenic escheria coli, salmonella, shigella, yersinia enterocolitica.
2.) Virus ; enterovirus – echoviruses, adenovirus, human retrrovirua – seperti agent, rota virus.
3.) Jamur ; candida enteritis
4.) Parasit ; giardia clamblia, crytosporidium.
5.) Protozoa .
b Faktor non infeksi
1.) Alergi makanan ; susu, protein.
2.) Gangguan metabolic atau malabsorbsi ; penyakit celiac, cystic fibrosis pada pancreas.
3.) Iritasi langsung pada saluran pencernaan oleh maknan.
4.) Obat – obatan ; seperti antibiotik.
5.) Penyakit usus ; cholitis ulcerative, crohn disease, enterocolitis.
6.) Emosional atau stress
7.) Obstruksi usus
3. PATOFISIOLOGI
a Meningkatnya motalitas dan cepatnya pengosongan pada intestinal merupakan akibat dari gangguan absorbsi dan ekskresi cairan dan elektrolit yang berlebihan.
b Cairan, sodium, potassium dan bicarbonat berpindah dari rongga extraseluler kedalam tinja, sehingga mengakibatkan dehidrasi kekurangan elektrolit dan dapat terjadi asidosis metabolic.
c Diare yang terjadi merupakan proses dari :
1.) Transport aktif akibat rangsangan toksin bakteri terhadap elektrolit kedalam usus halus. Sel dalam mokosa intestinal mengalami iritasi dan meningkatnya sekresi cairan dan elektrolit. Mikroorganisme yang masuk akan merusak sel mokosa intestinal sehingga menurunkan area permukaan intestinal, perubahan kapasitas intestinal dan terjadi gangguan absorbsi cairan dan elektrolit.
2.) Peradangan akan menurunkan kemampuan intestinal untuk mengabsorbsi cairan dan elektrolit serta bahan – bahan makanan, ini biasa terjadi pada sindrom malabsorbsi.
4. MANIFESTASI KLINIS
a Sering buang air besar dengan konsistensi tinja cair atau encer
b Terdapat tanda dan gejala dehidrasi ; turgor kulit jelek ( elastisitas kulit menurun ) ubun – ubun dan mata cekung, membran mukosa kering.
c Kram abdominal.
d Demam.
e Mual dan muntah
f Anorexia
g Lemah
h Pucat
i Perubahan tanda –tanda vital ; nadi dan pernafasan cepat
j Menurun atau tidak ada pengeluaran urine.
5. PENATALAKSANAAN TERAPEUTIK
a Penanganan fokos pada penyebab
b Pemberian cairan dan elektrolit ; oral ( pedialyt atau oralyt ) atau terapi parenteral.
c Pada bayi, pemberian ASI diteruskan jika penyebab bukan dari ASI.
6. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a Riwayat alergi pada obat – obatan atau makanan
b Kultur tinja
c Pemeriksaan elektrolit, BUN, creatinin dan glukosa
d Pemeriksaan tinja ; pH, leukosit, glukosa dan eritrosit.
7. KOMPLIKASI
a Dehidrasi
b Hipokalemi
c Hipokalsemi
d Cardiacdisrhythmias akibat hipokalemi dan hipokalsemi.
e Hiponatremi
f Syok hipovalemik
g Asidosis
B. PENATALAKSANAAN PERAWATAN
1. PENGKAJIAN
a Kaji riwayat diare
b Kaji status hidrasi ; ubun – ubun, turgor kulit, mata, membran mukosa mulut.
c Kaji tinja ; jumlah, warna, bau, konsistensi dan waktu buang air besar.
d Kaji intake dan out put
e Kaji berat badan
f Kaji tingkat aktifitas anak
g Kaji tanda – tanda vital
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a Kurangnya volume cairan berhubungan dengan seringnya buang air besar dan encer.
b Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan menurunya intake dan menurunya absorbsi makanan dan cairan.
c Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan perawatan anak
d Cemas dan takut pada anak / orang tua berhubungan dengan hospitalisasi dan kondisi sakit
e Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan seringnya buang air besar
f Resiko infeksi pada orang lain berhungan dengan terinfeksi kuman diare atau kurangnya pengetahuan tentang pencegahan penyebaran penyakit.
3. PERENCANAAN
a Keseimbangan cairan dapat dipertahankan dalam batas normal yang ditandai dengan pengeluaran urine sesuai, pengisian kembali kapiler ( capillary refill ) kurang dari 2 detik, turgor kulit elastis, membran mukosa lembab dan berat badan tidak menunjukkan penurunan.
b Anak akan toleran dengan diit yang sesuai ditandai dengan berat badan dalam batas normal dan tidak terjadi kekambuhan diare.
c Orang tua dapat berpartisipasi dalam perawatan anak
d Anak dan orang tua menunjukkkan rasa cemas atau takut berkurang di tandai dengan orang tua aktif merawat anak, bertanya dengan perawat atau dokter tentang kondisi dan klarifikasi serta anak tidak menangis
e Anak tidak menunjukkan gangguan integritas kulit ditandai dengan kulit utuh dan tidak lecet
f Tidak terjadi penularan diare pada orang lain
4. IMPLEMENTASI
a Meningkatkan hidrasi dan keseimbangan elektrolit
1.) Kaji status hidrasi ; ubun – ubun, mata, turgor kulit dan membran mukosa
2.) Kaji pengeluaran urine ; berat jenis urine atau pengeluaran urine sesuai dengan usia 1 – 2 ml / kg BB / jam.
3.) Kaji pemasukan dan pengeluaran cairan
4.) Monitor tanda – tanda vital
5.) Pemeriksaan labolatorium ; elektrolit, Ht, pH dan serum albumin
6.) Pemberian cairan dan elektrolit sesuai protocol ( oralit atau parenteral )
7.) Pemberian obat anti diare dan antibiotik sesuai program
8.) Anak diistirahatkan
b Meningkatkan kenutuhan nutrisi yang optimum
1.) Timbang berat badan anak setiap hari
2.) Monitor itake dan out put
3.) Setelah rehidrasi berikan minuman oral dengan sering dan makanan sesuai dengan diit dan usia atau berat badan anak
4.) Hindari minuman buah – buahan.
5.) Lakukan oral hygiene setiap habis makan
6.) Bagi bayi ASI tetap diteruskan, bila bayi tidak toleran dengan ASI berikan formula rendah laktosa
c Meningkatkan pengetahuan orang tua
1.) Kaji tingkat pemahaman orang tua
2.) Ajarkan tentang prinsif diit dan kontrol diare
3.) Ajarkan pada orang tua tentang pentingnya cuci tangan untuk menghindari kontaminasi
4.) Jelaskan tentang penyakit, perawatan dan pengobatan.
5.) Jelaskan pentingnya kebersihan
d Menurunkan rasa takut / cemas pada anak dan orang tua
1.) Ajarkan kepada orang tua untuk mengekspresikan perasaan takut dan cemas ; dengarkan keluhan orang tua dan bersikap empati serta sentuhan terapeutik.
2.) Gunakan komunikasi terapeutik ; kontak mata, sikap tubuh dan sentuhan
3.) Jelaskan setiap prosedur yang akan dilakukan pada anak dan orang tua
4.) Libatkan orang tua dalam perawatan
5.) Jelaskan kondisi anak, alasan pengobatan dan perawatan
e Mempertahankan keutuhan kulit
1.) Kaji kerusakan kulit atau iritasi setiap buang air besar
2.) Gunakan kapas lembab dan sabun bayi ( pH normal ) untuk membersihkan anus setiap buang air besar
3.) Hindari dari pakaian dan alas tempat tidur yang lembab
4.) Ganti popok / kain apabila lembab atau basah
5.) Gunakan obat cream bila perlu untuk perawatan perineal
f Mengurangi dan mencegah penyebaran infeksi
1.) Ajarkan cara mencuci tangan yang benar pada orang tua dan pengunjung
2.) Segera bersihkan dan angkat bekas buang air besar dan tempatkan pada tempat khusus
3.) Gunakan standar pencegahan universal
4.) Tempatkan pada ruangan khusus
5. PERENCANAAN PEMULANGAN
a Jelaskan penyebab diare
b Ajarkan untuk mengenal komplikasi diare
c Ajarkan untuk mencegah penyakit diare dan penularannya
d Ajarkan perawatan anak ; pemberian makanan dan minuman ( oralit )
e Ajarkan mengenal tanda – tanda dehidrasi ; ubun- ubun dan mata cekung, turgor kulit tidak elastis, membran mukosa kering
f Jelaskan obat – obatan yang diberikan ; efek samping dan kegunaannya.
A. KONSEP DASAR
1. DEFENISI
Diare adalah kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang terjadi karena frekuensi satu kali atau lebih buang air besar dengan bentuk tinja yang encer atau cair.
2. ETIOLOGI
a Faktor infeksi
1.) Bakteri ; Enteropathogenic escheria coli, salmonella, shigella, yersinia enterocolitica.
2.) Virus ; enterovirus – echoviruses, adenovirus, human retrrovirua – seperti agent, rota virus.
3.) Jamur ; candida enteritis
4.) Parasit ; giardia clamblia, crytosporidium.
5.) Protozoa .
b Faktor non infeksi
1.) Alergi makanan ; susu, protein.
2.) Gangguan metabolic atau malabsorbsi ; penyakit celiac, cystic fibrosis pada pancreas.
3.) Iritasi langsung pada saluran pencernaan oleh maknan.
4.) Obat – obatan ; seperti antibiotik.
5.) Penyakit usus ; cholitis ulcerative, crohn disease, enterocolitis.
6.) Emosional atau stress
7.) Obstruksi usus
3. PATOFISIOLOGI
a Meningkatnya motalitas dan cepatnya pengosongan pada intestinal merupakan akibat dari gangguan absorbsi dan ekskresi cairan dan elektrolit yang berlebihan.
b Cairan, sodium, potassium dan bicarbonat berpindah dari rongga extraseluler kedalam tinja, sehingga mengakibatkan dehidrasi kekurangan elektrolit dan dapat terjadi asidosis metabolic.
c Diare yang terjadi merupakan proses dari :
1.) Transport aktif akibat rangsangan toksin bakteri terhadap elektrolit kedalam usus halus. Sel dalam mokosa intestinal mengalami iritasi dan meningkatnya sekresi cairan dan elektrolit. Mikroorganisme yang masuk akan merusak sel mokosa intestinal sehingga menurunkan area permukaan intestinal, perubahan kapasitas intestinal dan terjadi gangguan absorbsi cairan dan elektrolit.
2.) Peradangan akan menurunkan kemampuan intestinal untuk mengabsorbsi cairan dan elektrolit serta bahan – bahan makanan, ini biasa terjadi pada sindrom malabsorbsi.
4. MANIFESTASI KLINIS
a Sering buang air besar dengan konsistensi tinja cair atau encer
b Terdapat tanda dan gejala dehidrasi ; turgor kulit jelek ( elastisitas kulit menurun ) ubun – ubun dan mata cekung, membran mukosa kering.
c Kram abdominal.
d Demam.
e Mual dan muntah
f Anorexia
g Lemah
h Pucat
i Perubahan tanda –tanda vital ; nadi dan pernafasan cepat
j Menurun atau tidak ada pengeluaran urine.
5. PENATALAKSANAAN TERAPEUTIK
a Penanganan fokos pada penyebab
b Pemberian cairan dan elektrolit ; oral ( pedialyt atau oralyt ) atau terapi parenteral.
c Pada bayi, pemberian ASI diteruskan jika penyebab bukan dari ASI.
6. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a Riwayat alergi pada obat – obatan atau makanan
b Kultur tinja
c Pemeriksaan elektrolit, BUN, creatinin dan glukosa
d Pemeriksaan tinja ; pH, leukosit, glukosa dan eritrosit.
7. KOMPLIKASI
a Dehidrasi
b Hipokalemi
c Hipokalsemi
d Cardiacdisrhythmias akibat hipokalemi dan hipokalsemi.
e Hiponatremi
f Syok hipovalemik
g Asidosis
B. PENATALAKSANAAN PERAWATAN
1. PENGKAJIAN
a Kaji riwayat diare
b Kaji status hidrasi ; ubun – ubun, turgor kulit, mata, membran mukosa mulut.
c Kaji tinja ; jumlah, warna, bau, konsistensi dan waktu buang air besar.
d Kaji intake dan out put
e Kaji berat badan
f Kaji tingkat aktifitas anak
g Kaji tanda – tanda vital
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a Kurangnya volume cairan berhubungan dengan seringnya buang air besar dan encer.
b Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan menurunya intake dan menurunya absorbsi makanan dan cairan.
c Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan perawatan anak
d Cemas dan takut pada anak / orang tua berhubungan dengan hospitalisasi dan kondisi sakit
e Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan seringnya buang air besar
f Resiko infeksi pada orang lain berhungan dengan terinfeksi kuman diare atau kurangnya pengetahuan tentang pencegahan penyebaran penyakit.
3. PERENCANAAN
a Keseimbangan cairan dapat dipertahankan dalam batas normal yang ditandai dengan pengeluaran urine sesuai, pengisian kembali kapiler ( capillary refill ) kurang dari 2 detik, turgor kulit elastis, membran mukosa lembab dan berat badan tidak menunjukkan penurunan.
b Anak akan toleran dengan diit yang sesuai ditandai dengan berat badan dalam batas normal dan tidak terjadi kekambuhan diare.
c Orang tua dapat berpartisipasi dalam perawatan anak
d Anak dan orang tua menunjukkkan rasa cemas atau takut berkurang di tandai dengan orang tua aktif merawat anak, bertanya dengan perawat atau dokter tentang kondisi dan klarifikasi serta anak tidak menangis
e Anak tidak menunjukkan gangguan integritas kulit ditandai dengan kulit utuh dan tidak lecet
f Tidak terjadi penularan diare pada orang lain
4. IMPLEMENTASI
a Meningkatkan hidrasi dan keseimbangan elektrolit
1.) Kaji status hidrasi ; ubun – ubun, mata, turgor kulit dan membran mukosa
2.) Kaji pengeluaran urine ; berat jenis urine atau pengeluaran urine sesuai dengan usia 1 – 2 ml / kg BB / jam.
3.) Kaji pemasukan dan pengeluaran cairan
4.) Monitor tanda – tanda vital
5.) Pemeriksaan labolatorium ; elektrolit, Ht, pH dan serum albumin
6.) Pemberian cairan dan elektrolit sesuai protocol ( oralit atau parenteral )
7.) Pemberian obat anti diare dan antibiotik sesuai program
8.) Anak diistirahatkan
b Meningkatkan kenutuhan nutrisi yang optimum
1.) Timbang berat badan anak setiap hari
2.) Monitor itake dan out put
3.) Setelah rehidrasi berikan minuman oral dengan sering dan makanan sesuai dengan diit dan usia atau berat badan anak
4.) Hindari minuman buah – buahan.
5.) Lakukan oral hygiene setiap habis makan
6.) Bagi bayi ASI tetap diteruskan, bila bayi tidak toleran dengan ASI berikan formula rendah laktosa
c Meningkatkan pengetahuan orang tua
1.) Kaji tingkat pemahaman orang tua
2.) Ajarkan tentang prinsif diit dan kontrol diare
3.) Ajarkan pada orang tua tentang pentingnya cuci tangan untuk menghindari kontaminasi
4.) Jelaskan tentang penyakit, perawatan dan pengobatan.
5.) Jelaskan pentingnya kebersihan
d Menurunkan rasa takut / cemas pada anak dan orang tua
1.) Ajarkan kepada orang tua untuk mengekspresikan perasaan takut dan cemas ; dengarkan keluhan orang tua dan bersikap empati serta sentuhan terapeutik.
2.) Gunakan komunikasi terapeutik ; kontak mata, sikap tubuh dan sentuhan
3.) Jelaskan setiap prosedur yang akan dilakukan pada anak dan orang tua
4.) Libatkan orang tua dalam perawatan
5.) Jelaskan kondisi anak, alasan pengobatan dan perawatan
e Mempertahankan keutuhan kulit
1.) Kaji kerusakan kulit atau iritasi setiap buang air besar
2.) Gunakan kapas lembab dan sabun bayi ( pH normal ) untuk membersihkan anus setiap buang air besar
3.) Hindari dari pakaian dan alas tempat tidur yang lembab
4.) Ganti popok / kain apabila lembab atau basah
5.) Gunakan obat cream bila perlu untuk perawatan perineal
f Mengurangi dan mencegah penyebaran infeksi
1.) Ajarkan cara mencuci tangan yang benar pada orang tua dan pengunjung
2.) Segera bersihkan dan angkat bekas buang air besar dan tempatkan pada tempat khusus
3.) Gunakan standar pencegahan universal
4.) Tempatkan pada ruangan khusus
5. PERENCANAAN PEMULANGAN
a Jelaskan penyebab diare
b Ajarkan untuk mengenal komplikasi diare
c Ajarkan untuk mencegah penyakit diare dan penularannya
d Ajarkan perawatan anak ; pemberian makanan dan minuman ( oralit )
e Ajarkan mengenal tanda – tanda dehidrasi ; ubun- ubun dan mata cekung, turgor kulit tidak elastis, membran mukosa kering
f Jelaskan obat – obatan yang diberikan ; efek samping dan kegunaannya.
Langganan:
Postingan (Atom)